Oleh: Dr. Abdul Mukmin, M. PD. I
Dunia pendidikan Indonesia kembali riuh dengan narasi “Kurikulum Mendalam”. Fokusnya jelas: pemangkasan materi agar lebih esensial dan penguatan karakter melalui jalur kokurikuler. Namun, bagi mereka yang telah melintasi berbagai era pendidikan di negeri ini, ada rasa déjà vu yang kuat. Benarkah ini sebuah terobosan? Ataukah kita sebenarnya hanya sedang memutar kembali “kaset lama” CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) tahun 1984 di atas pemutar musik digital?.
Jika kita membedah anatomi kurikulum baru ini, sulit untuk tidak melihat bayang-bayang CBSA. Secara substansi, tidak ada yang benar-benar baru. Kita hanya sedang melakukan rebranding atas gagasan yang sudah menjadi fondasi pedagogi kita puluhan tahun lalu. Namun, pertanyaannya: mengapa dulu CBSA sering dicibir menjadi “Catat Buku Sampai Abis” dan kini kita mencoba resep yang sama tanpa memperbaiki “dapur”-nya?.
Label Baru, Masalah Lama.
Persoalan besar pendidikan kita adalah kegemaran mengubah nomenklatur tanpa menyentuh akar masalah. Kita sibuk mengganti istilah “Aktif” menjadi “Mendalam”, atau “Keterampilan Proses” menjadi “Kokurikuler”. Padahal, tantangan di lapangan tetaplah sama sejak era 80-an: kurikulum yang hebat di atas kertas sering kali macet di ruang kelas karena pemerintah abai pada variabel kunci di luar dokumen kurikulum itu sendiri.
Menerapkan kurikulum “mendalam” tanpa memperbaiki fondasi sistemik sama saja dengan memasang mesin mobil balap pada kerangka sepeda tua. Ia tidak akan lari cepat; ia justru akan hancur berantakan.
Solusi Fundamental: Berhenti Bereksperimen dengan Istilah.
Jika pemerintah serius ingin kurikulum ini berhasil—dan tidak berakhir menjadi beban administratif seperti pendahulunya—maka fokusnya harus beralih dari sosialisasi jargon menuju lima pilar solusi fundamental:
Kesejahteraan Guru sebagai Harga Mati
Bagaimana mungkin seorang guru diminta memfasilitasi pembelajaran yang “mendalam” jika pikiran mereka masih terbagi dengan cara menutupi biaya hidup? Tanpa kesejahteraan yang layak, guru akan cenderung mengambil jalan pintas dalam mengajar. Kesejahteraan adalah bahan bakar utama profesionalisme.
Pelatihan Guru yang Substantif, Bukan Seremonial
Pelatihan guru tidak boleh lagi hanya bersifat teknis pengisian aplikasi atau sekadar “numpang lewat” di seminar. Guru butuh pelatihan pedagogi yang intensif, di mana mereka benar-benar dilatih menjadi fasilitator diskusi dan perancang proyek kokurikuler yang bermakna, bukan sekadar pengumpul administrasi.
Sarana Memadai dan Menyeluruh.
Kurikulum yang menuntut eksplorasi siswa membutuhkan perpustakaan yang hidup, laboratorium yang berfungsi, dan akses teknologi yang merata. Tanpa pemerataan sarana, kurikulum “mendalam” hanya akan menjadi privilese sekolah elite di kota besar, sementara sekolah di pelosok kembali tertinggal dalam keterbatasan.
Pengawasan yang Menyeluruh dan Suportif
Sistem pengawasan (supervisi) harus bergeser dari sekadar memeriksa tumpukan kertas menjadi pengawasan kualitas interaksi di kelas. Pengawas harus hadir sebagai mentor yang membantu guru memecahkan masalah instruksional, bukan sebagai “polisi kurikulum” yang hanya sibuk mencocokkan silabus.
Biaya Operasional Pendidikan yang Realistis.
Kegiatan kokurikuler dan pembelajaran aktif membutuhkan biaya. Eksperimen, kunjungan lapangan, dan proyek kreatif tidak bisa berjalan dengan anggaran yang mencekik. Pemerintah harus menjamin Biaya Operasional Sekolah (BOS) yang memadai agar guru tidak perlu memutar otak (atau dompet) sendiri hanya untuk menjalankan kegiatan kokurikuler.
Kesimpulan
Kita harus berani mengakui bahwa “Kurikulum Mendalam” sebenarnya adalah pengakuan jujur bahwa semangat CBSA adalah jalan yang benar. Namun, kunci keberhasilannya bukan terletak pada seberapa canggih istilah yang digunakan, melainkan pada seberapa serius pemerintah memuliakan guru dan melengkapi fasilitas sekolah.
Pendidikan kita tidak butuh “baju baru” setiap pergantian kepemimpinan. Kita butuh keberanian untuk berhenti bereksperimen dengan nama dan mulai berinvestasi pada manusia. Berikan guru kesejahteraan, pelatihan, dan alat yang memadai, maka kurikulum apa pun pasti akan membuahkan hasil. Tanpa itu, kita hanya akan terus berputar di lingkaran yang sama: ganti menteri, ganti istilah, namun esensi pendidikan tetap jalan di tempat.
