
Bangil – Suasana sore di Pondok Pesantren Al Ma’hadul Islami tampak berbeda. Sejumlah santri terlihat berkeliling area pondok menggunakan sepeda sambil bercanda dan tertawa bersama teman-temannya. Kegiatan gowes santai yang kini menjadi kebiasaan positif di lingkungan pesantren tersebut tidak hanya menjadi sarana olahraga, tetapi juga cara para santri menjaga kesehatan dan melepas penat di tengah padatnya aktivitas belajar dan mengaji.
Kegiatan bersepeda dilakukan oleh para santri, guru, karyawan, hingga pengurus pondok. Selain menyehatkan tubuh, aktivitas ini juga menjadi hiburan sederhana yang menyenangkan bagi para santri di waktu senggang.
Sebagian santri bahkan memanfaatkan sepeda untuk aktivitas sehari-hari di lingkungan pondok, seperti menuju ruang makan yang berjarak cukup jauh dari hujrah.
“Kalau mau ke belakang atau ke ruang makan, saya sering pakai sepeda,” ungkap Afnan.
Tak jarang para santri bermain sepeda bersama secara bergantian maupun berboncengan. Suasana akrab dan penuh kebersamaan terlihat saat mereka saling menunggu giliran menggunakan sepeda.
“Kadang bonceng sama anak-anak yang main sepeda,” imbuh Fatimah.
Budaya antre yang sudah terbiasa diterapkan di lingkungan pondok juga tampak ketika para santri menggunakan sepeda bersama-sama.
“Biasanya kita gantian, sekali atau dua kali putaran. Sepedanya sampai tidak ada istirahatnya,” ujar salah satu santri sambil tertawa.
Dengan penuh semangat, para santri berkeliling area pondok maupun lingkungan sekitar. Aktivitas tersebut memberikan banyak manfaat, mulai dari menjaga kebugaran tubuh, melatih kekuatan otot kaki, menjaga kesehatan jantung, hingga membantu mengurangi rasa penat setelah belajar.
Rayhana Sausan mengaku bersepeda menjadi salah satu kegiatan favoritnya karena dapat membuat suasana hati lebih tenang dan menyenangkan.
“Naik sepeda itu seru, bisa ketawa lepas. Kalau sudah main sepeda, rasa sumpek jadi hilang,” tuturnya.
Ia juga menceritakan bahwa dirinya sempat merasa pegal saat pertama kali belajar bersepeda. Namun, setelah terbiasa, rasa sakit itu perlahan hilang.
“Awalnya naik sepeda pegal, tapi setelah sering latihan sudah tidak sakit lagi,” katanya.
Menariknya, tidak semua santri sudah mahir bersepeda sejak awal. Sebagian dari mereka justru baru belajar mengendarai sepeda selama tinggal di pondok dengan bantuan teman-temannya.
“Saya baru bisa bersepeda karena belajar di sini, diajari teman-teman,” ujar Haura Insia.
Melalui kegiatan sederhana ini, Pondok Pesantren Al Ma’hadul Islami tidak hanya mengajarkan pentingnya menjaga kesehatan fisik, tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan, kekompakan, dan saling membantu antar santri dalam kehidupan sehari-hari.
