Oleh: Dr. Abdul Mu’min, M.PdI.
Dunia pendidikan Indonesia kembali dikejutkan oleh rilis data hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026. Angka-angka yang muncul bukan sekadar statistik, melainkan sebuah alarm keras: rata-rata nasional Matematika hanya menyentuh 36,10, sementara Bahasa Inggris terpuruk di angka 24,93. Di satu sisi, TKA dipuji sebagai alat ukur yang jujur, namun di sisi lain, hasil ini menelanjangi jurang pemisah antara
regulasi yang ambisius dan realitas pembelajaran di kelas yang masih jalan di tempat.
Definisi dan Esensi Menurut Regulasi Baru
Berdasarkan Permendikbudristek No. 12 Tahun 2025, TKA bukan lagi sekadar tes penguasaan materi atau hafalan isi buku teks. TKA didefinisikan sebagai instrumen pengukur kapasitas kognitif dan literasi kedalaman (Deep Literacy). Esensinya bukan lagi menguji seberapa banyak informasi yang diserap siswa,
melainkan seberapa mampu mereka melakukan Transfer of Knowledge—menggunakan konsep dasar untuk memecahkan masalah baru yang kompleks. TKA 2025 dirancang memiliki Predictive Validity yang tinggi untuk menjamin kesiapan siswa di jenjang perguruan tinggi.
Model Soal: Level “Dewa” vs Level “Dasar”
Problem utama kegagalan massal ini terletak pada model soal. Berdasarkan Keputusan Kepala BSKAP No. 045/2025, soal TKA didominasi oleh Higher Order Thinking Skills (HOTS) level 4-6. Siswa tidak lagi bertemu dengan pilihan ganda sederhana. Mereka harus berhadapan dengan:
Pilihan Ganda Kompleks: Menuntut ketelitian memilih lebih dari satu jawaban benar.
Analisis Hubungan Sebab-Akibat: Menguji logika berpikir sistematis. Isian Singkat Numerik: Menghilangkan ruang bagi faktor keberuntungan (menebak). Stimulus-Based: Jawaban tersembunyi di balik grafik atau jurnal ilmiah yang panjang, bukan pada ingatan rumus.
Problematika: Jebakan Level 1-3
Mengapa hasil TKA SMA 2026 “jeblok”? Jawabannya sederhana: Ketimpangan Level. Selama tiga tahun di SMA, mayoritas siswa masih dijejali pola pembelajaran tradisional. Guru cenderung mengejar ketuntasan kurikulum dengan metode ceramah, dan evaluasi harian masih berkutat pada Level 1-3 (Mengidentifikasi, Menghafal, dan Mengaplikasikan rumus sederhana). Bayangkan, siswa yang selama ini hanya dilatih “berendam di bak mandi” (soal level dasar), tiba-tiba dilempar ke “samudera luas” (TKA HOTS) tanpa pelampung. Wajar jika mereka tenggelam. Kita memiliki regulasi futuristik melalui Permen 2025, namun
ekosistem pembelajarannya masih bersifat peninggalan masa lalu.
Data Nasional 2026: Sebuah Tamparan
Data rata-rata nasional berikut adalah bukti nyata dari diskoneksi tersebut:
| Mata Pelajaran | Rata-rata | Keterangan |
| Bahasa Indonesia | 55,38 | Cukup |
| Matematika | 36,10 | Rendah |
| Bahasa Inggris | 24,93 | Sangat Rendah |
| Fisika | 37,65 | Sangat Rendah |
| Geografi | 70,36 | Baik |
Solusi: Menyelaraskan Frekuensi
Jika kita ingin TKA benar-benar menjadi alat ukur pendidikan yang adil, maka
perbaikan harus dimulai dari hulu, bukan hanya di hilir:
a. Redesain Pedagogi: Guru harus didorong keluar dari zona nyaman Level 1-3.
Pembelajaran wajib berbasis Problem-Based Learning yang selaras dengan semangat
Permen 2025.
b. Scaffolding Assessment: Sekolah harus mulai menerapkan soal Pilihan Ganda
Kompleks dan Isian Singkat dalam ujian mingguan, agar siswa memiliki “imunitas”
terhadap kerumitan soal TKA.
c. Literasi Sains & Sosial: Literasi bukan sekadar membaca, tapi membedah data.
Gerakan literasi sekolah harus ditingkatkan standarnya untuk memahami grafik, tren,
dan inferensi teks.
Penutup
TKA 2025/2026 adalah langkah maju untuk menaikkan standar pendidikan Indonesia. Namun, tanpa sinkronisasi antara apa yang diajarkan di kelas dengan apa yang diuji, TKA hanya akan menjadi “mesin penyaring” yang kejam bagi anak bangsa. Sudah saatnya kita berhenti menghukum siswa atas kegagalan sistem yang kita buat sendiri.Mari perbaiki cara kita mengajar, sebelum kita mengadili hasil belajar mereka
